About

Toad Jumping Up and Down

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 22 Maret 2016

Dalihan Natolu

Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.
Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak.
Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain :
Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isisnya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru)
Dalam budaya Batak, ada umpasa Litok aek ditoruan, tujulu ni jalanan. Hal ini terjadi apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu ada sikap-sikap yang tidak menghormati hula-hula, sehingga pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu kepada pihak hula-hula. Upacara mamboan sipanganon disampaikan kepada keturunan pihak hula-hula setaraf generasi terdahulu atau tingkat yang dianggap pernah terjadi kesalahan itu.
Dalam berbagai agama, ibu sangat diagungkan. Bahkan ada ungkapan sorga ada ditelapak kaki ibu. Dalam agama Kristen, hukum Taurat ke V menyebutkan, hormatilah ibu-bapamu agar lanjut usiamu, dst. Tidaklah bertentangan bila falsafah dalihan na tolu somba marhula-hula diterapkan. Karena kita menghormati keluarga ibu yang kita cintai itu. Dalam agama Kristen disebutkan, kalau menghormati orang tua, akan mendapat berkat dan lanjut usia.
Manat Mardongan Tubu
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya Si Raja GURU MANGALOKSA menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit. Dongan Tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kawin. Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah.
Angka naso manta mardongan tubu, na tajom ma adopanna. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik .
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
Apabila dalam suatu adat Batak terdapat pelecehan atau sikap meremehkan teman semarganya, biasanya akan berakhir dengan perdebatan sengit bahkan pada perkelahian. Hal itu dapat dipahami, karena suatu keluarga yang bersaudara antara abang dan adik tidak terdapat batas-batas. Bahkan karena diikat oleh kasih sayang, dalam adat Batak , namardongan tubu dapat selalu memanggil nama, khususnya kepada tingkat di bawahnya. Misalnya panggilan “ho”, “langkam”, “amani aha”, dll panggilan yang sangat akrab.
Namun harus diingat, dalam keakraban itulah terdapat peluang-peluang sakit hati yang menimbulkan pertikaian atau perkelahian. Hal ini dapat terjadi pada tonggo raja (perencanaan acara puncak adat) yang tidak menempatkan posisi dongan tubu sesuai dengan kepentingan adat.
Dalam kasus lain, manta mardongan tubu sangat perlu diingat dalam masalah harta warisan atau masalah kepemilikan. Karena dalam kenyataannya, masalah warisanlah penyebab terbesar pertikaian di kalangan namardongan tubu. Hal itu terbukti pula dalam persidangan-persidangan pengadilan negeri di Bona Pasogit yang bertikai akibat harta warisan (terutama tanah) sering membawa korban jiwa.
Pertikaian akibat harta warisan antara boru ke hula-hula sangat jarang sekali. Dalam ungkapan (umpasa) batak ada istilah jolo diseat hata asa di seat raut. Artinya, sebaiknya segala sesuatu itu dimusyawarahkan dulu sebaik-baiknya, barulah dilaksanakan. Umunya umpasa itu disampaikan dalam rangka pembagian jambar, yang diatur oleh pihak-pihak namardongan tubu. Itulah sebabnya ada ungkapan marpanungkun (konsultasi).
Patutak Pande Bosi, soban bulu panggorgorina. Marpukpak angka na marhahamaranggi (na mardongan tubu) angka boru ma pangolanina. Pandai Besi (pande bosi) biasanya dalam membentuk tempahannya sangat riuh bunyi peralayannya. Namun untuk menjadikan tempahan itu, harus ada kayu atau arang yang membakarnya supaya jadi baik. Demikian diumpamakan, kalau pihak hula-hula namardongan tubu bertikai karena sesuatu hal, agar tercapai kebaikan, pihak boru berperan sebagai penengah, bukan terlihat dalam pertikaian itu.

Pengertian Dalihan Natolu secara letterlijk adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital. Karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga, digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas dalihan natolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk. Untuk mensejajarkannya, digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut Sihal-sihal. Apabila sudah pas letaknya, maka siap untuk memasak.
Ompunta naparjolo martungkot salagunde. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu ? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.
Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
Itulah tiga falsafah hukum adat Batak yang cukup adil yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial yang hidup dalam tatanan adat sejak lahir sampai meninggal dunia.
Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak.
Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki. Sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain :
Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isisnya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru)
Dalam budaya Batak, ada umpasa Litok aek ditoruan, tujulu ni jalanan. Hal ini terjadi apabila dalam suatu keluarga terdapat penderitaan atau kesusahan hidup. Ada pemikiran, semasa hidup pendahulu dari generasi yang sengsara atau menderita itu ada sikap-sikap yang tidak menghormati hula-hula, sehingga pernyataan siraraon do gadongna dianggap menjadi bala dalam kehidupannya. Untuk menghilangkan bala itu, diadakanlah upacara adat mamboan sipanganon untuk memohon ampun apabila ada kesalahan-kesalahan generasi terdahulu kepada pihak hula-hula. Upacara mamboan sipanganon disampaikan kepada keturunan pihak hula-hula setaraf generasi terdahulu atau tingkat yang dianggap pernah terjadi kesalahan itu.
Dalam berbagai agama, ibu sangat diagungkan. Bahkan ada ungkapan sorga ada ditelapak kaki ibu. Dalam agama Kristen, hukum Taurat ke V menyebutkan, hormatilah ibu-bapamu agar lanjut usiamu, dst. Tidaklah bertentangan bila falsafah dalihan na tolu somba marhula-hula diterapkan. Karena kita menghormati keluarga ibu yang kita cintai itu. Dalam agama Kristen disebutkan, kalau menghormati orang tua, akan mendapat berkat dan lanjut usia.
Manat Mardongan Tubu
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya Si Raja GURU MANGALOKSA menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit. Dongan Tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kawin. Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah.
Angka naso manta mardongan tubu, na tajom ma adopanna. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik .
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kawin atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
Apabila dalam suatu adat Batak terdapat pelecehan atau sikap meremehkan teman semarganya, biasanya akan berakhir dengan perdebatan sengit bahkan pada perkelahian. Hal itu dapat dipahami, karena suatu keluarga yang bersaudara antara abang dan adik tidak terdapat batas-batas. Bahkan karena diikat oleh kasih sayang, dalam adat Batak , namardongan tubu dapat selalu memanggil nama, khususnya kepada tingkat di bawahnya. Misalnya panggilan “ho”, “langkam”, “amani aha”, dll panggilan yang sangat akrab.
Namun harus diingat, dalam keakraban itulah terdapat peluang-peluang sakit hati yang menimbulkan pertikaian atau perkelahian. Hal ini dapat terjadi pada tonggo raja (perencanaan acara puncak adat) yang tidak menempatkan posisi dongan tubu sesuai dengan kepentingan adat.
Dalam kasus lain, manta mardongan tubu sangat perlu diingat dalam masalah harta warisan atau masalah kepemilikan. Karena dalam kenyataannya, masalah warisanlah penyebab terbesar pertikaian di kalangan namardongan tubu. Hal itu terbukti pula dalam persidangan-persidangan pengadilan negeri di Bona Pasogit yang bertikai akibat harta warisan (terutama tanah) sering membawa korban jiwa.
Pertikaian akibat harta warisan antara boru ke hula-hula sangat jarang sekali. Dalam ungkapan (umpasa) batak ada istilah jolo diseat hata asa di seat raut. Artinya, sebaiknya segala sesuatu itu dimusyawarahkan dulu sebaik-baiknya, barulah dilaksanakan. Umunya umpasa itu disampaikan dalam rangka pembagian jambar, yang diatur oleh pihak-pihak namardongan tubu. Itulah sebabnya ada ungkapan marpanungkun (konsultasi).

http://www.silaban.net/2006/05/23/dalihan-natolu-sumber-hukum-adat-batak/

Senin, 21 Maret 2016

7 Wisata Tanah Batak



Siapa yang tidak mengenal Danau Toba, danau terbesar di Indonesia yang menyimpan banyak keindahan di dalamnya dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Konon katanya menurut cerita rakyat daerah setempat danau ini terbentuk dari seorang laki-laki yang telah melanggar sumpahnya dengan menyebut anaknya adalah anak ikan. Namun menurut penelitian para Geolog bahwa Danau Toba terbentuk dari ledakan atau letusan supervolcano (gunung berapi super) sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu. Diperkirakan pada saat letusan terjadi debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut. Kebudayaan sekitar Danau Toba sungguh sangat menarik untuk dinikmati seperti halnya Tarian adat batak “Tor-tor”, Pesta Rakyat Danau Toba yang diadakan sekali dalam setahun, boneka gerak penuh mistis “SiGale-gale”, upacara adat pernikahan dan kematian, Rumah adat “Sopo”, kuburan batu (sarcophagus) dan tugu bernuansa purbakala, tenun ulos, dan berbagai kerajinan tangan menarik lainnya.

     Bukit Gundaling, adalah salah satu obyek wisata di Brastagi, yang berjarak kurang lebih 3 km dari pusat kota Brastagi. Bukit yang memiliki ketinggian 1575 dari permukaan laut, ini sangat nyaman sebagai tempat rekreasi keluarga. Dari atas bukit ini pula kita dapat menikmati panorama gunung berapi Sibayak dan Sinabung. Menurut situs resmi Pemeritah Kota Medan, bahwa lokasi wisata ini sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan. Dari kota Medan ke arah Brastagi berjarak kurang lebih 66 km. Dikenal sebagai kota Markisa dan Jeruk Manis, Brastagi merupakan daerah yang sejuk yang memiliki hamparan perladangan pertanian yang indah, luas dan hijau. Selain itu daerah ini juga memiliki fasilitas lengkap seperti : hotel berbintang, restoran dan padang golf.


Terletak di Desa Durin Sirugun, kaki Gunung Sibayak, Sumatera Utara. Dapat ditempuh melalui perjalanan darat, melintasi Bumi Perkemahan Sibolangit. Jarak tempuh dari Medan – Sibolangit sekitar 75km, dan dari Pintu Utama Bumi Perkemahan Sibolangit membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk tiba di Air Terjun Dua Warna. Jalan-jalan ke Air Terjun Dua Warna ini, Anda bisa kembali fresh karena pemandangan hutan dan udaranya yang masih segar. Keadaan yang masih alami itulah yang bisa dimanfaatkan untuk mengembalikan kesegaran tubuh dari segala kepenatan. Tetapi, di akhir pekan, objek wisata Air Terjun Dua Warna di Sibolangit ini sangat penuh sesak dengan wisatawan lokal. Dianjurkan untuk datang pada hari biasa saja jika Anda akan jalan-jalan ke sana. Ketika memasuki Bumi Perkemahan Sibolangit di Desa Bandar Baru, anda bisa menyusuri hutan dengan hiking atau jalan kaki santai selama 3 jam, dan untuk menghindari tersesat, ada baiknya Anda harus dibantu oleh pemandu lokal. Mendaftarlah di pos penjagaan dan melapor akan menuju Air Terjun Dua Warna. Air Terjun Dua Warna berketinggian 100 meter, bersumber dari Gunung Sibayak, dan air yang turun dari sungai atas akan tertampung ke sebuah danau kecil. Warna air terjun ini yaitu biru muda dan putih keabu-abuan, karena kandungan phospor dan belerang yang akan menghasilkan warha biru muda. Karena mengandung belerang, Anda dilarang meminum air dari Air Terjun Dua Warna.



Obyek wisata Bukit Lawang di  Kecamatan.Bahorok, Kabupaten Langkat adalah salah satu daerah tujuan wisata di Sumatera Utara yang sudah lama dikenal. Selang beberapa waktu, objek wisata ini sempat terpuruk akibat terjadinya banjir bandang pada 2 November 2003.Tercatat pada tahun 2010 sebanyak 8.931 wisatawan mancanegara yang berasal dari 49 negara selama 2010 telah mengunjungi objek wisata Bukit Lawang. Tak heran memang banyak wisatawan mengunjungi tempat ini karena keindahan alamnya dan juga satwa liarnya misalnya adalah orang utan, gajah, badak, dan harimau sumatera. Air Terjun Bukit Lawang berada di objek wisata Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuseur.  Di kawasan ini akan dijumpai Pusat rehabilitasi Orang Utan yang merupakan program kerja sebuah badan dunia World Wide Life Fund (WWF).  Dilokasi ini dapat disaksikan bagaimana para petugas merehabilitasi perikehidupan orang utan yang selama ini tak mengenal alam terbuka sebagai habitat kehidupannya.


     Air Terjun Bukit Lawang berada di objek wisata Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuseur.  Di kawasan akan dijumpai Pusat rehabilitasi Orang Utan yang merupakan program kerja sebuah badan dunia World Wide Life Fund (WWF).  Dilokasi ini dapat disaksikan bagaimana para petugas merehabilitasi perikehidupan orang utan yang selama ini tak mengenal alam terbuka sebagai habitat kehidupannya. Rasa penasaran mengajakku untuk turun, melewati jalan dan tangga yang berliku dan terjal. Dari kejauhan saja air terjun ini sudah menawan. Berjalan dan berjalan terus, meski terik matahari sudah membakar sebagian energiku. Akhirnya, kaki yang sudah gemetaran dan peluh yang sudah berjatuhan memang sebanding dengan keindahan yang didapatkan sesampainya di bawah, di lokasi jatuhnya air terjun.

6. Teluk Tapian Nauli



     Tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir, Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar Arab. Bukan cerita baru lagi bahwa kawasan perairan laut wilayah pantai barat Sumatera ini banyak menyimpan “mutiara”. Tersimpan, dan belum seluruhnya digali. Dan menurut survei, “mutiara” ini bersifat renewable. Teluk Tapian Nauli sudah lama dikenal dengan kekayaan laut yang dimiliki. Di kawasan Lautan Indonesia tersimpan ikan-ikan yang terkenal mahal dalam pasaran dunia seperti kerapu, kakap, tuna, tenggiri serta berbagai jenis ikan pelagis kecil seperti lemuru, tembang, kembung dan layang-layang. Di sini hidup pula ikan-ikan demersal, udang, lobster, yang dikenal laku keras di pasaran untuk memenuhi permintaan berbagai rumah-makan terkenal di Hongkong, Singapura dan Malaysia. Ikan tuna, misalnya, jenis ikan sangat digemari di pasaran dunia ini ternyata banyak terdapat di perairan laut Sibolga. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil penelitian oleh sekelompok pengusaha dan peneliti dari Australia yang menyimpulkan bahwa perairan Sibolga sampai pada batas ratusan kilometer ke Samudera Indonesia merupakan sarang ikan tuna.
 
7. Gunung Sibayak


     Gunung Sibayak yang terletak didataran tinggi Karo dengan ketinggian 2.094 m dari permukaan laut. Gunung yang keadaan puncaknya yang sudah porak poranda karena letusan di masa lalu ini bisa dicapai dari dua tempat yaitu: dari desa Raja Berneh (Semangat Gunung) dan dari kota Brastagi. Gunung Sibayak ini merupakan gunng api yang masih aktif, dan mempunyai kawah yang cukup landai untuk dituruni dan tampak tidak terlalu berbahaya asalkan jangan terlalu dekat. Gunung ini tidak begitu sulit untuk didaki bahkan oleh seorang pemula sekalipun. Seperti halnya Gunung Gede di Jawa Barat, gunung ini selalu ramai dikunjungi oleh para pendaki lokal dimalam minggu. Mereka biasanya mulai mendaki sekitar jam 02.00 dini hari untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit dipuncak gunung ini. Dari puncak gunung ini kita bisa menyaksikan pemandangan kota Medan di kejauhan.
 
Dikutip : http://7ujuhbintang.blogspot.co.id/2011/08/7-lokasi-wisata-alam-terbaik-di-tanah.html

MAKANAN KHAS BATAK


     Pasti anda penasaran mengetahui makanan khas batak ?.Semoga blog ini bermanfaat untuk anda !

  • Saksang
Saksang adalah masakan khas dari tanah Batak yang terbuat dari daging babi (atau daging anjing) yang dicincang dan dimasak dengan menggunakan darah,santan dan rempah-rempah (termasuk jeruk purut dan daun salam, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai, merica, serai, jahe, lengkuas, kunyit dan andaliman). Saksang menjadi makanan wajib dalam adat pernikahan Batak.
  • Arsik
Arsik adalah salah satu masakan khas kawasan Tapanuli yang populer. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning. Ikan mas adalah bahan utama, yang dalam penyiapannya tidak dibuang sisiknya. Bumbu arsik sangat khas, mengandung beberapa komponen yang khas dari wilayah pegunungan Sumatera Utara, seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), selain bumbu khas Nusantara yang umum, seperti lengkuas dan serai. Bumbu-bumbu yang dihaluskan dilumuri pada tubuh ikan beberapa saat. Ikan kemudian dimasak dengan sedikit minyak dan api kecil hingga agak mengering.
  • Babi Panggang
  • Manuk Napinadar
Manuk Napinadar atau Ayam Napinadar adalah masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu. Untuk mengerjakan resep yang satu ini agak sedikit rumit, butuh waktu dan kesabaran. Pastinya inti dari masakan ini adalah di saos darah ayam itu sendiri.
Masak Ayam Napinadar ini, ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu, setelah itu lalu disiram dengan saos spesial yakni darah ayam (manuk) itu sendiri, dan dicampur dengan andaliman, bawang putih bubuk (yang sudah digiling sampai halus) lalu dimasak. Sama seperti kita menuangkan saos ke atas ayam yang sudah dipanggang.
  • Tanggotanggo
Merupakan makanan olahan yang terbuat dari punggung babi muda
  • Dengke Mas na Niura
Dengke Mas na Niura atau Ikan Mas Na Niura ini adalah merupakan makanan tradisonal khas Batak yang berasal dari Tapanuli. Dahulu bahwa masakan na niura dikhususkan untuk raja saja, namun karena rasanya yang enak sehingga semua orang-orang batak ingin menyantap dan membuatnya.
Ikan Mas Na Niura ini merupakan sebuah penyajian Lauk Pauk yang cara membuatnya tidak dimasak, direbus, digoreng atau semacamnya, karena na niura dalam bahasa Batak artinya ikan yang tidak dimasak, ikan mentah tersebut disajikan dengan bumbu yang lengkap sehingga yang akan membuat ikan tersebut lebih enak dirasa tanpa dimasak, yang artinya bahwa bumbu-bumbu itulah yang memasak ikan mas tersebut.
  • Na Tinombur
Na Tinombur adalah makanan khas Batak, sajian dari Tapanuli. Hidangan yang menggunakan ikan lele atau ikan mujahir ini diolah secara dibakar dan disajikan dengan sambal, hampir mirip dengan lele penyet atau pecel lele.
Ikan mas atau ikan lain juga bisa, yang penting Tomburnya adalah bumbu dan saus yang dilumuri ke ikan.
  • Mie Gomak
Mie Gomak adalah makanan yang terkenal sebagai masakan khas daerah dari tanah Batak Toba, meliputi semua daerah Batak Toba, dan juga menjadi masakan khas di Sibolga dan Tapanuli. Mengenai asal usul sebutan untuk menu ini beragam versi.
Sebagian menyebutkan, mungkin karena cara penyediaannya digomak-gomak (digenggam pakai tangan) hingga sampai saat ini disebut mie gomak, meski pun pada akhirnya tidak menggenggamnya dengan tangan di saat menghidangkannya.
Juga sering disebut Spageti Batak karena mirip dengan spageti dari Itali, bentuknya mirip seperti lidi.
Mie yang sudah direbus biasanya dibuat terpisah dengan kuah dan sambalnya. Meski banyak ragam untuk membuat menu makanan khas Batak ini, ada yang menggunakan kuah ada juga dibuat seperti mie goreng. Rasanya sangat unik apabila mie gomak dicampur dengan bumbu dari tanah Batak yakni andaliman.
  • Na Nidugu
  • Dali ni Horbo
Dali ni Horbo atau Bagot ni horbo adalah air susu kerbau yang diolah secara tradisional dan merupakan makanan khas Batak dari daerah Tapanuli.
  • Sambal Tuktuk
Sambal Tuktuk adalah makanan khas tradisional Batak, yang berasal dari Tapanuli. Sebenarnya bahan-bahan untuk membuat sambal tuktuk tidak berbeda dengan bahan sambal-sambal lainnya, sederhana saja. Yang membuat sambal ini sedikit lebih berbeda dengan sambal yang lain adalah andalimannya.
Di daerah asalnya, sambal tuktuk dicampur dengan ikan aso-aso (sejenis ikan kembung yang sudah dikeringkan), tapi jika tidak menemukan ikan aso-aso bisa diganti dengan ikan teri tawar.

Plus minus orang batak



Plus minus orang batak

Batak adalah salah satu suku bangsa yang ada dibumi khatulistiwa ini. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah : Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun dan Batak Angkola. Mayoritas orang Batak beragama Kristen. Ras Batak yang banyak beragama Islam adalah Batak Mandailing dan Batak Angkola. Ini disebabkan karena pada awal abad ke 19 semasa Perang Paderi pasukan Minangkabau menyerang Tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola.
Seperti layaknya suku bangsa lain di tanah air yang kaya raya ini, orang Batak pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Meskipun kelebihan dan kekurangan ini sifatnya relatif. Tergantung dari sudut pandang mana kita mau melihatnya. Para penekun kejernihan mengatakan jika anda cukup baik maka yang burukpun bisa terlihat baik.
Kekurangan kalau boleh dikatakan seperti itu yang sering kita lihat pada diri orang Batak adalah sifat orang batak yang cenderung kasar, temperamental dan untuk sebagian orang ras batak terkesan kurang santun. Banyaknya profesi copet yang dijalani oleh sebagian kecil orang Batak juga membuat citra negatif pada suku yang konon berasal dari pulau Formosa ini. Orang Batak juga cenderung sulit mengontrol emosi dan tak jarang mengeluarkan kata-kata kasar atau kalau istilah orang Medan “cakap kotor”.
Kebiasaan orang Batak berjudi di terminal-terminal juga melekatkan citra kurang baik pada suku yang sebagian kecil masih menganut agama Malim dan menganut kepercayaan animisme [Sipelebegu, Parbegu] ini. Sampai-sampai ada yang menulis pada sebuah blog untuk menjauhi dan jangan kawin dengan orang Batak. Suatu anjuran yang sama sekali tidak bijak. Apapun yang kita lihat dan dengar kita tidak bisa men-generalisasikan suatu suku bangsa [suku apapun itu]. Termasuk suku batak!

Image result for batak perjuangan
Disamping kekurangan-kekurangan yang sudah tersaji diatas, orang Batak juga memiliki banyak sekali kelebihan yang patut mereka banggakan. Salah satunya adalah sistem kekerabatan mereka yang begitu kuat kemanapun mereka pergi selalu ada perkumpulan orang-orang Batak. Tarombo adalah kelebihan lain dari orang Batak. Tarombo adalah pemikiran hebat dari para raja-raja Batak terdahulu. Mereka berpikir agar kelak anak cucu dari keturunan-keturunannya tidak putus rantai persaudaraan dan dapat mengenal serta mengetahui dengan baik dari mana mereka berasal.

Sumber Gbr: www.silaban.net
Orang Batak dikenal Straight to the point, jujur, terus terang, terbuka dan tidak bertele-tele serta berbelit-belit adalah sisi positif lainnya dari orang Batak. Anak bagi orang Batak adalah kekayaan yang amat berharga “Anakhon hi do hamoran di au”. Sifat pekerja keras dan tegar pendirian diaplikasikan para inang-inang untuk bersusah payah dan jungkir balik agar anak-anaknya dapat bersekolah tinggi. Konon etnis Batak adalah etnis dengan tingkat pendidikan tertinggi.
Demikianlah apa yang pernah saya alami, lihat, dengar dan baca tentang orang Batak. Semoga ada manfaatnya untuk saya dan kita semua!! 


Orang Orang batak yang terkenal di Indonesia



Orang Orang batak yang terkenal di Indonesia

1.        Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah mantan Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain ia pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Ia juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga. Adam Malik ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6 November 1998 berdasarkan Keppres Nomor 107/TK/1998.[1]
2.  Akbar Tanjung
Akbar Tanjung (lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 14 Agustus 1945; umur 70 tahun) adalah seorang politikus Indonesia dan mantan Ketua DPR-RI.
Pada 1977-1988, ia menjadi anggota FKP DPR-RI yang mewakili Provinsi Jawa Timur. Pada 1982-1983, ia menjabat Wakil Sekretaris FKP DPR. Pada 1987-1992 dan 1992-1997, ia menjabat Sekretaris FKP-MPR dan anggota Badan Pekerja MPR-RI. Akbar pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada periode 1988-1993, Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993-1998), Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman (1998). Pada 1997-1998, ia menjabat Wakil Ketua FKP MPR. Ia menjabat Menteri Sekretaris Negara (1998-1999). Pada 1997-1999, ia menjabat Wakil Ketua FKP MPR dan Wakil Ketua PAH II Badan Pekerja MPR. Pada 1999-2004, ia menjabat Ketua DPR-RI.
Semasa menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar, ia pernah menjadi sorotan publik ketika lolos dari jerat hukum setelah Mahkamah Agung menerima permohonan kasasinya. Hal ini sekaligus memungkinkannya ikut serta sebagai calon presiden dalam Pemilu 2004, namun ia akhirnya tidak dicalonkan partainya sendiri karena dikalahkan oleh Wiranto dalam Konvensi Calon Presiden Golkar. Selanjutnya Akbar Tanjung juga kehilangan jabatan sebagai ketua Umum Partai Golkar setelah dikalahkan oleh Jusuf Kalla yang telah menjadi Wakil Presiden, seterusnya belajar di Universitas Gadjah Mada dan mendirikan Akbar Tanjung Institute.

3.Judika Sihotang
Judika Nalon Abadi Sihotang yang lebih dikenal dengan Judika atau Judika Sihotang (lahir di Dairi, Sidikalang, Sumatra Utara, Indonesia, 31 Agustus 1978; umur 37 tahun) adalah seorang aktor, penyanyi dan model berkebangsaan Indonesia yang meraih runner-up Indonesian Idol ke-2. Ia adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara yang menghabiskan masa kecilnya dengan berbagai macam kegiatan.
Bakat bernyanyinya sudah tampak semenjak Judika masih duduk di bangku Sekolah Dasar Inpres di Brastagi. Bahkan ia sempat membuat grup vokal bersama Roy (adik), Juneidi (sahabat) dan Jonathan (sahabat) dan juga dikontrak di sebuah hotel Internasional berbintang 5 di Brastagi. Judika kecil tidak puas berbangga hati ketika banyak yang bilang ia punya potensi menjadi bintang. Lantas ia menjajal kemampuannya lewat Bahana Suara Pelajar dan keluar sebagai juara pertama untuk tingkat Sumatera Utara dan cukup puas di posisi ketiga untuk tingkat Nasional. Selain bersolo karier, saat ini Judika juga menjajal sebagai anak band dengan menjadi vokalis Mahadewa sebuah band yang digawangi Ahmad Dhani.
Tak hanya berprofesi sebagai penyanyi, Judika juga mulai merambah dunia akting. Ia bermain di film Si Jago Merah pada 2008, dan pada 2009 bermain di film The Tarix Jabrix 2. Bersama kekasihnya, Duma Riris Silalahi ia juga bermain di film Impal (pariban).
Di ajang Indonesian Movie Awards 2009, Judika mendapatkan penghargaan dalam kategori Pemeran Pendatang Baru Pria Terbaik lewat film Si Jago Merah (2008).
Belum beberapa lama ini, Judika mendapat berkah dari Tuhan karena telah dikaruniai putri bernama Cleo Deomora Boru Sihotang yang lahir pada tanggal 20 Oktober 2014 serta putra bernama Judeo Volante Sihotang. [2]


4.Luhut Pandjaitan

Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan (lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba SamosirSumatera Utara, 28 September 1947; umur 68 tahun) adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia saat ini. Ia juga menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2014 hingga 2 September 2015[1]. Pada 12 Agustus 2015 ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.
Sebelum masuk dalam Kabinet Kerja, Luhut Pandjaitan pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tahun 2000 - 2001 saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI 1999 - 2001. Sebelum menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, ia menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura. 

5.T. B. Silalahi

Letjen TNI (Purn). Dr. (HC) Tiopan Bernhard Silalahi (lahir di Pematangsiantar, 17 April 1938; umur 77 tahun) adalah mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961 ini memiliki jabatan terakhir di militer adalah Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal, tahun 1988. Selanjutnya dikaryakan sebagai Sekjen Departemen Pertambangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998).
Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962),Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora. Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972), ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo. Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal TNI.
Sejalan dengan penugasannya, TB Silalahi memanfaatkan waktunya dengan mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung sampai sarjana muda (1968) dan mendapatkan S1 pada Sekolah tinggi Hukum Militer dengan predikat Cumlaude (1995). Atas prestasinya dalam bidang pemerintahan dan sosial, ia beroleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gregorio Araneta, 8 agustus 1996 di Manila, Filipina. Karier militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi (1988). Pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto (1993), Kabinet pembangunan VI, Ia mendapat kepercayaan menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal TNI. Tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat TB Silalahi menjadi penasehat presiden yang kemudian pada tahun 2006 menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan pada tahun 2007 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dalam bidang pertahanan dan keamanan.
TB Silalahi adalah pendiri dan anggota Dewan Pembina Yayasan Soposurung yang mendirikan dan mengelola sebuah sekolah unggulan di Balige, Sumatera Utara. Menurunnya mutu pendidikan di Bonapasogit, menggerakkan hati TB Silalahi untuk turut serta bertanggungjawab, bersama teman-teman masa kecilnya (Alumni SMA Soposurung) ia mendirikan Yayasan Soposurung), berupa sebuah asrama yang menampung siswa/i lulusan SMP yang terpilih melalui seleksi yang ketat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang SMA, setiap tahun 40 orang putra-putri terbaik bonapasogit (sejak 2008 menjadi 80 orang) digembleng mental dan karakternya disamping mengikuti pendidikan formal di sekolah (SMAN 2 Balige). Konsep ini dikenal dengan istilah SMA Plus yang kemudian ditetapkan oleh Presiden Soeharto sebagai sekolah percontohan di seluruh Indonesia. Pekerjaan tidak sia-sia, saat ini ratusan alumni sedang menempuh kuliah diberbagiai perguaruan tinggi terbaik di Indonesia. Juga ratusan alumni sudah bekerja diberbagai bidang pekerjaan, swasta maupun negeri. Dalam maupun luar negeri.

 Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/T.B._Silalahi,https://id.wikipedia.org/wiki/Judika,https://id.wikipedia.org/wiki/Akbar_Tanjung

                      https://id.wikipedia.org/wiki/Luhut_Binsar_Panjaitan,https://en.wikipedia.org/wiki/Adam_Malik