Siapa
yang tidak mengenal Danau Toba, danau terbesar di Indonesia yang
menyimpan banyak keindahan di dalamnya dengan ukuran panjang 100
kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera
Utara, Indonesia. Konon katanya menurut cerita rakyat daerah setempat
danau ini terbentuk dari seorang laki-laki yang telah melanggar
sumpahnya dengan menyebut anaknya adalah anak ikan. Namun menurut
penelitian para Geolog bahwa Danau Toba terbentuk dari ledakan atau
letusan supervolcano (gunung berapi super) sekitar 73.000-75.000 tahun
yang lalu. Diperkirakan pada saat letusan terjadi debu vulkanik yang
ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika
Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya
mencapai 10 km di atas permukaan laut. Kebudayaan sekitar Danau Toba
sungguh sangat menarik untuk dinikmati seperti halnya Tarian adat batak
“Tor-tor”, Pesta Rakyat Danau Toba yang diadakan sekali dalam setahun,
boneka gerak penuh mistis “SiGale-gale”, upacara adat pernikahan dan
kematian, Rumah adat “Sopo”, kuburan batu (sarcophagus) dan tugu bernuansa purbakala, tenun ulos, dan berbagai kerajinan tangan menarik lainnya.
Bukit Gundaling, adalah salah satu obyek wisata di Brastagi, yang
berjarak kurang lebih 3 km dari pusat kota Brastagi. Bukit yang memiliki
ketinggian 1575 dari permukaan laut, ini sangat nyaman sebagai tempat
rekreasi keluarga. Dari atas bukit ini pula kita dapat menikmati
panorama gunung berapi Sibayak dan Sinabung. Menurut situs resmi
Pemeritah Kota Medan, bahwa lokasi wisata ini sudah dikenal sejak jaman
penjajahan Belanda sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan. Dari kota
Medan ke arah Brastagi berjarak kurang lebih 66 km. Dikenal sebagai kota
Markisa dan Jeruk Manis, Brastagi merupakan daerah yang sejuk yang
memiliki hamparan perladangan pertanian yang indah, luas dan hijau.
Selain itu daerah ini juga memiliki fasilitas lengkap seperti : hotel
berbintang, restoran dan padang golf.
Terletak
di Desa Durin Sirugun, kaki Gunung Sibayak, Sumatera Utara. Dapat
ditempuh melalui perjalanan darat, melintasi Bumi Perkemahan Sibolangit.
Jarak tempuh dari Medan – Sibolangit sekitar 75km, dan dari Pintu Utama
Bumi Perkemahan Sibolangit membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk tiba
di Air Terjun Dua Warna. Jalan-jalan ke Air Terjun Dua Warna
ini, Anda bisa kembali fresh karena pemandangan hutan dan udaranya yang
masih segar. Keadaan yang masih alami itulah yang bisa dimanfaatkan
untuk mengembalikan kesegaran tubuh dari segala kepenatan. Tetapi, di
akhir pekan, objek wisata Air Terjun Dua Warna di Sibolangit ini sangat
penuh sesak dengan wisatawan lokal. Dianjurkan untuk datang pada hari
biasa saja jika Anda akan jalan-jalan ke sana. Ketika memasuki Bumi
Perkemahan Sibolangit di Desa Bandar Baru, anda bisa menyusuri hutan
dengan hiking atau jalan kaki santai selama 3 jam, dan untuk menghindari
tersesat, ada baiknya Anda harus dibantu oleh pemandu lokal.
Mendaftarlah di pos penjagaan dan melapor akan menuju Air Terjun Dua
Warna. Air Terjun Dua Warna berketinggian 100 meter, bersumber dari
Gunung Sibayak, dan air yang turun dari sungai atas akan tertampung ke
sebuah danau kecil. Warna air terjun ini yaitu biru muda dan putih
keabu-abuan, karena kandungan phospor dan belerang yang akan
menghasilkan warha biru muda. Karena mengandung belerang, Anda dilarang
meminum air dari Air Terjun Dua Warna.
Obyek
wisata Bukit Lawang di Kecamatan.Bahorok, Kabupaten Langkat adalah
salah satu daerah tujuan wisata di Sumatera Utara yang sudah lama
dikenal. Selang beberapa waktu, objek wisata ini sempat terpuruk akibat
terjadinya banjir bandang pada 2 November 2003.Tercatat pada tahun 2010
sebanyak 8.931 wisatawan mancanegara yang berasal dari 49 negara selama
2010 telah mengunjungi objek wisata Bukit Lawang. Tak heran memang
banyak wisatawan mengunjungi tempat ini karena keindahan alamnya dan
juga satwa liarnya misalnya adalah orang utan, gajah, badak, dan harimau
sumatera. Air Terjun Bukit
Lawang berada di objek wisata Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung
Leuseur. Di kawasan ini akan dijumpai Pusat rehabilitasi Orang Utan
yang merupakan program kerja sebuah badan dunia World Wide Life Fund
(WWF). Dilokasi ini dapat disaksikan bagaimana para petugas
merehabilitasi perikehidupan orang utan yang selama ini tak mengenal
alam terbuka sebagai habitat kehidupannya.
Air Terjun Bukit Lawang berada di objek wisata Bukit Lawang, Taman
Nasional Gunung Leuseur. Di kawasan akan dijumpai Pusat rehabilitasi
Orang Utan yang merupakan program kerja sebuah badan dunia World Wide
Life Fund (WWF). Dilokasi ini dapat disaksikan bagaimana para petugas
merehabilitasi perikehidupan orang utan yang selama ini tak mengenal
alam terbuka sebagai habitat kehidupannya. Rasa penasaran mengajakku
untuk turun, melewati jalan dan tangga yang berliku dan terjal. Dari
kejauhan saja air terjun ini sudah menawan. Berjalan dan berjalan terus,
meski terik matahari sudah membakar sebagian energiku. Akhirnya, kaki
yang sudah gemetaran dan peluh yang sudah berjatuhan memang sebanding
dengan keindahan yang didapatkan sesampainya di bawah, di lokasi
jatuhnya air terjun.
6. Teluk Tapian Nauli
Tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir, Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar Arab. Bukan cerita baru lagi bahwa kawasan perairan laut wilayah pantai barat Sumatera ini banyak menyimpan “mutiara”. Tersimpan, dan belum seluruhnya digali. Dan menurut survei, “mutiara” ini bersifat renewable. Teluk Tapian Nauli sudah lama dikenal dengan kekayaan laut yang dimiliki. Di kawasan Lautan Indonesia tersimpan ikan-ikan yang terkenal mahal dalam pasaran dunia seperti kerapu, kakap, tuna, tenggiri serta berbagai jenis ikan pelagis kecil seperti lemuru, tembang, kembung dan layang-layang. Di sini hidup pula ikan-ikan demersal, udang, lobster, yang dikenal laku keras di pasaran untuk memenuhi permintaan berbagai rumah-makan terkenal di Hongkong, Singapura dan Malaysia. Ikan tuna, misalnya, jenis ikan sangat digemari di pasaran dunia ini ternyata banyak terdapat di perairan laut Sibolga. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil penelitian oleh sekelompok pengusaha dan peneliti dari Australia yang menyimpulkan bahwa perairan Sibolga sampai pada batas ratusan kilometer ke Samudera Indonesia merupakan sarang ikan tuna.
Tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir, Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar Arab. Bukan cerita baru lagi bahwa kawasan perairan laut wilayah pantai barat Sumatera ini banyak menyimpan “mutiara”. Tersimpan, dan belum seluruhnya digali. Dan menurut survei, “mutiara” ini bersifat renewable. Teluk Tapian Nauli sudah lama dikenal dengan kekayaan laut yang dimiliki. Di kawasan Lautan Indonesia tersimpan ikan-ikan yang terkenal mahal dalam pasaran dunia seperti kerapu, kakap, tuna, tenggiri serta berbagai jenis ikan pelagis kecil seperti lemuru, tembang, kembung dan layang-layang. Di sini hidup pula ikan-ikan demersal, udang, lobster, yang dikenal laku keras di pasaran untuk memenuhi permintaan berbagai rumah-makan terkenal di Hongkong, Singapura dan Malaysia. Ikan tuna, misalnya, jenis ikan sangat digemari di pasaran dunia ini ternyata banyak terdapat di perairan laut Sibolga. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil penelitian oleh sekelompok pengusaha dan peneliti dari Australia yang menyimpulkan bahwa perairan Sibolga sampai pada batas ratusan kilometer ke Samudera Indonesia merupakan sarang ikan tuna.
7. Gunung Sibayak
Gunung Sibayak yang terletak didataran tinggi Karo dengan ketinggian
2.094 m dari permukaan laut. Gunung yang keadaan puncaknya yang sudah
porak poranda karena letusan di masa lalu ini bisa dicapai dari dua
tempat yaitu: dari desa Raja Berneh (Semangat Gunung) dan dari kota
Brastagi. Gunung Sibayak ini merupakan gunng api yang masih aktif, dan
mempunyai kawah yang cukup landai untuk dituruni dan tampak tidak
terlalu berbahaya asalkan jangan terlalu dekat. Gunung ini tidak begitu
sulit untuk didaki bahkan oleh seorang pemula sekalipun. Seperti halnya
Gunung Gede di Jawa Barat, gunung ini selalu ramai dikunjungi oleh para
pendaki lokal dimalam minggu. Mereka biasanya mulai mendaki sekitar jam
02.00 dini hari untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit dipuncak
gunung ini. Dari puncak gunung ini kita bisa menyaksikan pemandangan
kota Medan di kejauhan.
Dikutip : http://7ujuhbintang.blogspot.co.id/2011/08/7-lokasi-wisata-alam-terbaik-di-tanah.html









0 komentar:
Posting Komentar